ATTENTION PLEASE… !!

31 03 2009

Buat teman-teman yang ingin tau performance sosok sohor FAIR A DICE nih saya tampilkan jadwal mereka di bulan-bulan ke depan..

cHecK tHis oNe OuT.. :

ScHeduLe

Datang dan saksikan ya all..

Keep rockin’ the Fair’a'Dice..

Regards, MA





Saatnya Untuk Me’NYEPI’

25 03 2009

...

Hari Nyepi tahun ini jatuh pada tanggal 26 Maret 2009.. Ini adalah tahun baru Saka 1931.. Hari dimana umat Hindu akan melaksanakan hari ‘sepi’nya selama 24jam terhitung sejak tanggal 26 Maret 2009 pukul 06.00pagi  sampai pukul 06.00 pagi hari berikutnya. Saya akan menguraikan makna dari hari Nyepi itu sendiri sebagai berikut..

Umat Hindu, justru di Tahun Baru Saka yang jatuh pada “Penanggal Ping Pisan Sasih Kadasa” menurut sistim kalender Hindu Nusantara, merayakannya dengan sepi yang kemudian bernama “Nyepi” artinya membuat suasana sepi, tanpa kegiatan (amati karya), tanpa menyalakan api (amati gni), tanpa melakukan perjalanan keluar rumah (amati lelungaan) dan tanpa hiburan (amati lelanguan) yang dikenal dengan istilah “Catur berata penyepian”.

1. Amati Geni
Amati geni mempunyai makna ganda yaitu tidak melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan menghidupkan api. Disamping itu juga merupakan upaya mengendalikan sikap prilaku agar tidak dipengaruhi oleh api amarah (kroda) dan loba (serakah). Menurut Tattwa Hindu (filsafat) yang memaknai simbol Geni tidak disimbolkan sebagai kekuatan dewa Brahma yang sebagai pencipta. Penciptaan yang terkait dengan hasil pemikiran seseorang disini perlunya diadakan perenungan, apakah kita sudah menghasilkan pemikiran untuk kebaikan umat ataukah sebaliknya. Pernyataan tersebut terungkap dalam berbagai Pustaka Suci Hindu yang mengatakan bahwa “Keunggulan manusia sebagai mahiuk ciptaan Tuhan, terletak pada proses pemikiran seseorang yang dapat membedakan sikap prilaku yang baik dan buruk (Sarasamuscaya : sloka 82). Alat kendali proses berpikir yang paling utama menurut ajaran Hindu adalah keyakinan terhadap karma phala (Sarasamuscaya, sloka 74). Mengacu pada etika Berata Penyepian di atas sudah nampakpelaksanaan amati Geni merupakan suatu simbol pengendalian diri seseorang dalam bersikap dan berprilaku.

2. Amati Lelanguan
Amati Lelanguan yang dimaksud merupakan kegiatan seseorang untuk mulat sarira atau rnawas diri terhadap kegiatan yang berkaitan dengan wacika. Wacika adalah perkataan yang benar yang dalam beriteraksi dengan sesamanya maupun dengan Tuhan sudah dilaksanakan atau belum. Menurut tattwa Hindu dalam pustaka suci yang terungkap dalam Sarasamuscaya dan Kekawin nitisastra mengajarkan sebagai berikut :
(1) kata-kata menyebabkan sukses dalam hidup;
(2) kata-kata menyebabkan orang gagal dalam hidup;
(3) kata-kata menyebabkan orang mendapat hasil sebagai sumbu kehidupan; dan
(4) kata-kata menyebabkan orang memiliki relasi. Mengacu pada pemikiran diatas manusia Hindu telah diajarkan agar tetap melaksanakan wacika yang diparisudha yang antinya:
(a) proses interaksi sosial (komunikasi) tidak boleh berkata kasar,
(b) mencaci maki dan juga tidak boleh menyebabkan orang tersinggung dan menderita (Sarasamuscaya; Sloka 75),

Uraian di atas memberikan kita suatu pelajaran bahwa perkataan (wacika) yang diparisudha itulah yang patut dipahami dan menata sikap prilaku seseorang agar hidup ini aman dan bahagia.

3. Amati Karya
Amati Karya sebagai etika Nyepi yang bermaknakan sebagai evoluasi diri dalam kaitan dengan karya (kerja) merenung hasil kerja dalam setahun dan sebelumnya sudahkah bermanfaat bagi kehidupan manusia. Aktualisasi amati karya dalam konteks hari raya merupakan perenungan pikiran yang religius yang mengajarkan umat Hindu dalam evaluasi hasil kerja sebagai berikut, yaitu sisihkan hasil kerja untuk yadnya,
-  untuk Hyang Widhi,
-  untuk Resi,
-  untuk Leluhur maupun
-  untuk budhi.
Hal tersebut tertera dalam pustaka suci Atharwa weda III.24. 5 dan Sarasamuscaya Sloka 262, yadnya itu juga merupakan implementasi dari ajaran Tri Rna. Diajarkan pula melalui yadnya dapat terjadi proses penyucian diri manusia baik secara rohani maupun jasmani.

Amati karya bermakna ganda yang artinya tidak bekerja dan dimaknai sebagai kesempatan untuk mengevaluasi kerja kita apakah aktivitas kerja itu sudah berlandaskan dharma atau sebaliknya. Kerja yang baik (subha karma) dapat menolong manusia untuk menolong dirinya dari penderitaan. Kerja juga menyebabkan terjadinya Jagadhita dan merupakan tabungan moral bagi umat Hindu agar bekerja lebih gigih, tekun dan produktif. Berdasarkan uraian diatas ajaran suci Hindu memandang bahwa kerja sebagai yadnya dan titah Hyang Widhi; kerja dapat menolong diri sendiri dan kerja dapat menentukan identitasnya Aku bekerja, maka aku ada demikianlah yang diamanatkan oleh umat Hindu.

4. Amati Lelungaan
Amati lelungaan merupakan salah satu dari empat berata Penyepian yang berfungsi sebagai evaluasi diri dan sebagai sumber pengendalian diri. Amati lelungaan berarti menghentikan bepergian ke luar rumah, maka pada saat hari raya Nyepi, jalan raya sangat sepi. Dalam konteks yang lebih luas hal itu berarti suatu evaluasi diri. Evaluasi kerja hubungan dengan Tuhan; evaluasi kerja hubungan dengan sesama dan hubungan kerja dengan alam sekitar apakah hubungan tersebut sudah baik atau belum, sehingga kita dapat menilai hasil kerja kita se-obyektif mungkin. Mutu meningkat untuk kebaikan atau merosot, langkah selanjutnya bisa menentukan sikap. Diharapkan agar lebih memantapkan kualitas kerja untuk kualitas hidup manusia.

Agama Hindu juga mempunyai kerangka yang terdiri dari Tatwa (filsafat), Susila (etika), dan Upacara (ritual). Ketiga hal tersebut merupakan suatu kesatuan yang utuh tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Filsafat, etika dan upacara harus dipahami, dihayati, dan dilaksanakan agar tujuan agama Hindu bisa tercapai. Tujuan agama Hindu itu tiada lain, untuk mencapai kedamaian rohani dan kesejahteraan hidup jasmani. Hari raya Nyepi salah satu hari raya besar umat Hindu di Bali, filsafat (tattwa) dan susila (etika) yang menjadi acuan semua upacara hari raya Hindu di Bali. Nilai-nilai budaya Hindu yang diakui di dalam upacara yadnya termasuk upacara yadnya pada hari raya Nyepi merupakan suatu kekuatan spiritual yang dapat membentuk jati diri umat; sebagai wahana pengendalian diri dan dapat sebagai penguat integrasi umat manusia dalam arti yang sangat universal.

Hari raya Nyepi sebagai hari raya umat Hindu yang merupakan puncak identitas umat Hindu karena hari raya suci ini satu-satunya yang diakui sebagai hari libur nasional yang dimulai tahun 1983.

Hari raya Nyepi jatuh dalam satu tahun sekali tepatnya pada tahun baru saka. Pada saat itu matahari menuju garis lintang utara, saat Uttarayana yang disebut juga Devayana yakin waktu yang baik untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Banyak kalangan lain di luar umat Hindu melihat keunikan tersendiri
bagi umat Hindu Nusantara dalam merayakan Tahun Barunya. Umat lain di hari Tahun Baru-nya merayakan dengan kemeriahan, pesta makan – minum, pakaian baru, dan sebagainya. Umat Hindu, justru merayakannya dengan sepi.

Di hari itu umat Hindu melakukan tapa, berata, yoga, samadhi untuk menyimpulkan serta menilai Trikaya pribadi-pribadi dimasa lampau dan merencanakan Trikaya Parisudha dimasa depan. Di hari itu pula umat mengevaluasi dirinya, seberapa jauhkah tingkat pendakian rohani yang telah dicapainya, dan sudahkah masing-masing dari kita mengerti pada hakekat tujuan kehidupan di dunia ini. Dengan amati karya, kita mempunyai waktu yang cukup untuk melakukan tapa, berata, yoga, dan samadhi; dalam suasana amati gni, pikiran akan lebih tercurah pada telusuran kebathinan yang tinggi; pembatasan gerak bepergian keluar rumah berupa amati lelungaan akan mengurung diri sendiri di suatu tempat tertentu untuk melakukan tapa, berata, yoga, samadhi. Tempat itu bisa dirumah, di Pura atau di tempat suci lainnya. Tentu saja dalam prosesi itu kita wajib menghindarkan diri dari segala bentuk hiburan yang menyenangkan yang dinikmati melalui panca indria.

Hari Raya Nyepi dan hari-hari Raya umat Hindu lainnya merupakan tonggak-tonggak peringatan penyadaran dharma. Oleh karena itu kegiatan dalam menyambut datangnya hari-hari raya itu semestinya tidak pada segi hura-hura dan kemeriahannya, tetapi lebih banyak pada segi tattwa atau falsafahnya. Seandainya mayoritas umat Hindu Nusantara menyadari hal ini, pastilah masyarakat yang Satyam, Siwam, Sundaram akan dapat tercapai dengan mudah.

Kelemahan tradisi beragama umat Hindu khususnya yang tinggal di Bali, adalah terlalu banyak berkutat pada segi-segi Ritual (Upacara) sehingga segi-segi Tattwa dan Susila kurang diperhatikan. Tidak sedikit dari mereka merasa sudah melaksanakan ajaran Agama hanya dengan melaksanakan upacara-upacara Panca Yadnya saja. Salah satu segi Tattwa yang kurang diperhatikan misalnya mewujudkan Trihitakarana. Perkataan ini sering menjadi selogan yang populer, diucapkan oleh berbagai tokoh dengan gempita tanpa menghayati makna dan aplikasinya yang riil di kehidupan sehari-hari. Trihitakarana, tiga hal yang mewujudkan kebaikan, yaitu keharmonisan hubungan manusia dengan Hyang Widhi (Pariangan), keharmonisan hubungan manusia sesama manusia (Pawongan) dan keharmonisan hubungan manusia dengan alam (Palemahan). Trihitakarana bertitik sentral pada manusia, dengan kata lain Trihitakarana bisa terwujud jika manusia mempunyai tekad yang kuat melaksana-kannya. Tekad yang kuat harus disertai dengan pengertian yang mendalam dan kebersamaan sesama umat manusia. Trihitakarana tidak bisa diwujudkan hanya oleh seorang diri atau sekelompok orang saja. Itu harus dilakukan bersama-sama oleh semua manusia, bahkan manusia beragama apapun.

Jadi hari Nyepi juga bisa membantu program dunia dalam GLOBAL WARMING, karena segala aktivitas yang berpotensi merusak dunia secara perlahan itu terhenti total walaupun hanya dalam waktu 24jam. Saya pikir itu cukup bisa membantu, selain untuk keheningan dan ketentraman diri sendiri dan sekitar, juga bisa menetralkan sejenak lingkungan (alam) yang mungkin sudah sangat lelah selalu di jejali dengan berbagai macam polusi dan pencemaran lingkungan..

Last But not least.. SELAMAT MERAYAKAN HARI RAYA NYEPI untuk sahabat-sahabat yang merayakannya.. SELAMAT TAHUN BARU SAKA 1931..

Moksartham Jagadhitaya Ca iti Dharma





SELAMAT HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN

17 03 2009

Om Swastyastu,

Besok, tepatnya tanggal 18 Maret 2009, umat Hindu akan merayakan Hari Raya Galungan dan selanjutnya akan merayakan hari raya Kuningan 10 (sepuluh) hari kemudian yaitu pada tanggal 28 Maret 2009.. Setahu saya Galungan dan Kuningan ini dirayakan setiap 6 (enam) bulan sekali.. Sebenarnya apa pengertian dari Hari Raya Galungan dan Kuningan ini sendiri?? Mari kita tilik bersama dari informasi yang telah saya kumpulkan dari berbagai sumber..

Makna Galungan dan Kuningan

penjor-galunganGalungan merupakan hari raya suci yang dirayakan umat Hindu, yang jatuh setiap Buda Kliwon Dungulan berdasarkan hitungan waktu bertemu sapta wara dan panca wara.

Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan, bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Tidak berarti bahwa Gumi/ Jagad ini lahir pada hari Budha Keliwon Dungulan. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan maha suksemaning idepnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya. Pada hari itulah umat bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini.

“Punang aci galungan ika ngawit bu, ka, dungulan sasih kacatur tanggal 25, isaka 804, bangun indra bhuwana ikang bali rajya”.

Artinya:”Perayaan hari raya suci Galungan pertama adalah pada hari Rabu Kliwon, wuku Dungulan sasih kapat tanggal 15 (purnama) tahun 804 saka, keadaan pulau Bali bagaikan lndra Loka”.

Mulai tahun saka inilah hari raya Galungan terus dilaksanakan, kemudian tiba-tiba Galungan berhenti dirayakan entah dasar apa pertimbangannya, itu terjadi pada tahun 1103 saka saat Raja Sri Eka Jaya memegang tampuk pemerintahan sampai dengan pemerintahan Raja Sri Dhanadi tahun 1126 saka Galungan tidak dirayakan. Dan akhirnya Galungan baru dirayakan kembali pada saat Raja Sri Jaya Kasunu memerintah, merasa heran kenapa raja dan para pejabat yang memerintah sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui sebabnya beliau bersemedi dan mendapatkan pawisik dari Dewi Durgha menjelaskan pada raja, leluhumya selalu berumur pendek karena tidak merayakan Galungan, oleh karena itu Dewi Durgha meminta kembali agar Galungan dirayakan kembali sesuai dengan tradisi yang berlaku dan memasang penjor.

Ternyata Galungan pun memiliki kategori macam-macam, seperti dikupas berikut ini:

A. Galungan

Di dalam lontar Sundarigama menyebutkan pada Buda Kliwon wuku Dungulan disebut hari raya Galungan.

B. Galungan Nadi

Apabila Galungan jatuh pada bulan Purnama disebut Galungan Nadi, umat Hindu melaksanakan tingkatan upacara yang lebih utama. Berdasarkan Lontar Purana Bali Dwipa bahwa Galungan jatuh pada sasih kapat (kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 saka Bali bagaikan lndra Loka ini menandakan betapa meriahnya dan sucinya hari raya itu.

C. Galungan Naramangsa.

Dalam Lontar Sanghyang Aji Swamandala mengenai Galungan Naramangsa disebutkan apabila Galungan jatuh pada Tilem Kapitu dan sasih Kasanga rah 9, tengek 9, tidak dibenarkan merayakan hari raya Galungan dan menghaturkan sesajen berisi tumpeng seyogyanya umat mengadakan caru berisi nasi cacahan dicampur ubi keladi, bila melanggar akan diserbu oleh Balagadabah.

Dalam rangkaian peringatan Galungan, sejak Redite Pahing Dungulan kita didatangi oleh Kala-tiganing Galungan. Sang Kala Tiga ialah Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan dan Sang Bhuta Amangkurat. Disebutkan dalam pustaka-pustaka itu: mereka adalah simbul angkara (keletehan). Jadi dalam hal ini umat berperang, bukanlah melawan musuh berbentuk fisik, tetapi kala keletehan dan adharma. Berjuang, berperang antara dharma untuk mengalahkan adharma. Menilik nama-nama itu, dapatlah kiranya diartikan sebagai berikut:

1. Sang Bhuta Galungan.
Galungan berarti berperang/ bertempur. Berdasarkan ini, boleh kita artikan bahwa pada hari Redite Pahing Dungulan kita baru kedatangan bhuta (kala) yang menyerang (kita baru sekedar diserang).

2. Sang Bhuta Dungulan.
Ia mengunjungi kita pada hari Soma Pon Dungulan keesokan harinya. Kata Dungulan berarti menundukkan/ mengalahkan.

3. Sang Bhuta Amangkurat
Hari Anggara Wage Dungulan kita dijelang oleh Sang Bhuta Amangkurat. Amangkurat sama dengan menguasai dunia. Dimaksudkan menguasai dunia besar (Bhuwana Agung), dan dunia kecil ialah badan kita sendiri (Bhuwana Alit).

Dharma dan Adharma Pada hari raya suci Galungan dan Kuningan umat Hindu secara ritual dan spiritual melaksanakannya dengan suasana hati yang damai. Pada hakekatnya hari raya suci Galungan dan Kuningan yang telah mengumandang di masyarakat adalah kemenangan dharma melawan adharma. Artinya dalam konteks tersebut kita hendaknya mampu instrospeksi diri siapa sesungguhnya jati diri kita, manusia yang dikatakan dewa ya, manusa ya, bhuta ya itu akan selalu ada dalam dirinya. Bagaimana cara menemukan hakekat dirinya yang sejati?, “matutur ikang atma ri jatinya” (Sanghyang Atma sadar akan jati dirinya).

Hal ini hendaknya melalui proses pendakian spiritual menuju kesadaran yang sejati, seperti halnya hari Raya Galungan dan Kuningan dari hari pra hari H, hari H dan pasca hari H manusia bertahan dan tetap teguh dengan kesucian hati digoda oleh Sang Kala Tiga Wisesa, musuh dalam dirinya, di dalam upaya menegakkan dharma didalam dirinya maupun diluar dirinya. Sifat-sifat adharma (bhuta) didalam dirinya dan diluar dirinya disomya agar menjadi dharma (Dewa), sehingga dunia ini menjadi seimbang (jagadhita). Dharma dan adharma, itu dua kenyataan yang berbeda (rwa bhineda) yang selalu ada didunia, tapi hendaknyalah itu diseimbangkan sehingga evolusi didunia bisa berjalan.

Rangkaian Upacara Galungan dan Kuningan

Persiapan perayan hari raya Galungan dimulai sejak Tumpek Wariga disebut juga Tumpek Bubuh, pada hari ini umat memohon kehadapan Sanghyang Sangkara, Dewanya tumbuh tumbuhan agar Beliau menganugrahkan supaya hasil pertanian meningkat. Setelah itu wrespati Sungsang adalah hari Sugihan Jawa merupakan pensucian bhuwana agung dilaksanakan dengan menghaturkan pesucian mererebu di Merajan, pekarangan, rumah serta menyucikan alat-alat untuk hari raya Galungan. Besoknya Sukra Kliwon Sungsang disebut hari Sugihan Bali, pada hari ini kita melaksanakan penyucian bhuwana alit, mengheningkan pikiran agar hening, heneng dan metirta gocara. Selanjutnya Redite Paing Dungulan disebut penyekeban.

Pada hari ini adalah hari turunnya Sang Kala Tiga Wisesa, maka pada hari ini para wiku dan widnyana meningkatkan pengendalian diri (anyekung adnyana). Besoknya Soma Pon Dungulan disebut penyajaan pada hari ini tetap menguji keteguhan sebagai bukti kesungguhan melakukan peningkatan kesucian diri seperti yoga semadi. Selanjutnya Anggara Wage Dungulan disebut penampahan melakukan bhuta yadnya ring catur pate atau lebuh di halaman rumah, agar tidak diganggu Sang Kala Tiga Wisesa. Besoknya Buda Kliwon Dungulan disebut Hari Raya Galungan umat Hindu melakukan pemujaan kepada Tuhan dengan segala manifestasi-Nya. Wrespati Umanis Dungulan disebut Manis Galungan, umat saling kunjung-mengunjungi dan maaf-memaafkan. Selanjutnya Saniscara Pon Dungulan disebut pemaridan guru pada hari ini umat melaksanakan tirta gocara, Redite Wage Kuningan disebut ulihan kembalinya Dewa dan Pitara kekahyangan.

Selanjutnya Soma Kliwon Kuningan disebut Pemacekan Agung Dewa beserta pengiringnya kembali dan sampai ketempat masing-masing. Sukra Wage Kuningan disebut Penampahan Kuningan adalah persiapan untuk menyambut hari Raya Kuningan. Besoknya Saniscara Kliwon Kuningan hari Raya Kuningan, pada hari ini umat Hindu memuja Tuhan dengan segala manifestasinya. Upacara menghaturkan saji hendaknya.dilaksanakan jangan sampai lewat tengah hari, mengapa ? Karena pada tengah hari para Dewata diceritakan kembali ke swarga. Kemudian yang paling akhir dari rangkaian hari raya Galungan yaitu Buda Kliwon Pahang disebut pegat uwakan akhir dari pada melakukan peberatan Galungan sebagai pewarah Dewi Durga kepada Sri Jaya Kasunu ditandai dengan mencabut penjor kemudian dibakar, abunya dimasukkan kedalam bungkak gading ditanam di pekarangan.

Demikianlah sedikit informasi yang bisa saya jabarkan akan makna dari Galungan dan Kuningan itu sendiri. Informasi ini saya dapat dari berbagai sumber.  Jadi, Kemenangan dharma atas adharma yang telah dirayakan setiap Galungan dan Kuningan hendaknyalah diserap dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dharma tidaklah hanya diwacanakan tapi dilaksanakan.

“Lawan ta waneh, atyanta ring gahana keta sanghyang dharma ngaranira, paramasuksma, tan pahi lawan tapakning iwak ring wwai, ndan pinet juga sire de sang pandita, kelan upasama pagwan kotsahan”.

Artinya:

Lagi pula terlampau amat mulia dharma itu, amat rahasia pula, tidak bedanya dengan jejak ikan didalam air, namun dituntut juga oleh sang pandita dengan ketenangan, kesabaran, keteguhan hati terus diusahakan.


Atas nama saya dan keluarga, mengucapkan:

“SELAMAT HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN”

Om, çantih, çantih, çantih, Om





ProudLy PreseNt… FAIR A DICE… !!!!

15 03 2009

Ladies and gentleman..

Ingin berbagi informasi menarik seputar dunia musik di bali..

Kini panggung Musik Bali dimeriahkan dengan kehadiran kembali sebuah Band indie yang saya rasa sangat unik.. Keunikan karena keberanian mereka memadupadankan beberapa genre musik ke dalam lagu-lagu yang mereka ciptakan..

Sebelum saya bercerita panjang lebar tentang sekumpulan anak muda ini, ada sedikit kisah di balik ‘reborn’nya band membanggakan ini..

Band yang pada awal pemunculannya berkibar  dengan nama ‘PAIR A DICE’ ini terbentuk pada tahun 2005.. Sebuah band yang lahir dengan genre skemocore (Ska Emo Hardcore) ini berhasil merilis sebuah album bertajuk Heaven and Hell on Earth dengan 14 single andalannya.

PAIR A DICE LIVE FROM JAK RESTOBeberapa single andalan mereka sempat menjadi juara selama beberapa minggu di INDIE chart radio-radio di Bali. Dengan senjata pamungkas mereka, mampu menaklukan dunia INDIE di Bali..Gak percaya kalau lagu-lagu mereka terdahulu cukup membius banyak jiwa (hehe)..

Silahkan dengarkan dan nikmati setiap dentingan nada dari ‘senjata’ mereka di

www.purevolume.com/pairadice

Band unik yang saat itu di gawangi Gung Alit Bollo (Bass & Back Voc), Keker (Guitar & Voc), Rodi (Drum), Rambo (Guitar & Back Voc), memproklamasikan album mereka pada Januari 2008.. Kesuksesan dengan peluncuran album pertama mereka tidak dibarengi dengan keutuhan personel di dalamnya. Kesibukan berkarir menjadi salah satu alasan utama para awaknya untuk menanggalkan sejenak rutinitas bermusik mereka..

Cukup sampai disini???

Tentu saja tidak… Suatu kebanggaan seorang seniman adalah tidak ada kata mati atau menyerah pada kreativitas.. Dengan kegigihan semangat 2 personel terakhir (Gung Alit & Rodi), naluri bermusik itupun tumbuh lagi.. Merubah dan menambah personel adalah ide brilliant mereka.. Tepat Oktober 2008 satu formasi baru dari band yang sempat berjaya dengan album perdananya muncul kembali ke permukaan, mereka lahir kembali dengan nama FAIR A DICE, dengan diperkuat beberapa jagoan musisi didalamnya. Hadirlah

Ayenx – Vocal

Rodi – Drum

Gung alit Bollo – Bass, Back Voc

Gerry – Guitar

Turah – Saxophone

Jay – Troumpet

Tanpa merubah genre musik Punk Rawk yang menjadi ciri khas mereka, hanya saja untuk formasi baru ini mereka mengulik beberapa genre seperti Bossas, Swing, Country, Reggae, Dixie yang blending dengan keharmoniannya..

Tidak ada sasaran khusus penikmat musik bagi mereka, siapapun berhak menikmati lagu-lagu mereka yang telah mereka kemas sedemikian rupa dalam setiap aksi panggungnya..

Bagaimana aksi panggung sosok sohor FAIR A DICE ini??

Blue Eyes (Dec 2008)

FE UNUD (January 2009)

Blue County (February 2009)

Begh.. Keren manstab GILA !! Hehehe.. Two Thumbs UP !!

Beberapa kali menggoncangkan panggung di berbagai acara musik, telah membuktikan kepiawaian mereka sebagai band yang layak untuk diperhitungkan ke’exist’annya. why ?? Dari segi lagu JELAS terdengar sangat menghibur, bahkan menjual.. dari segi wardrobe KEREN, dengan sangat yakin dipastikan mata gak akan sepet ng’lihat mereka.. Audiencenya pun jejingkrakan untuk kaum adam, bagaimana untuk kaum hawa?? Histeris, itu satu kata yang cukup mewakili saya rasa.. Hahaha..

Cukup membuktikan bukan??

Keseriusan mereka untuk menjadi musisi akan segera dibuktikan karena saat ini mereka sedang getol-getolnya membedah otak kreativnya untuk menelurkan hasil karya yang bisa mereka persembahkan secara special kepada penikmat musik indie khususnya dan blantika musik dunia pada umumnya.. Dengan perpaduan lirik bahasa Indonesia dan inggris di dalamnya, membuat mereka membuka pintu gerbang musik dunia bukan?!

Saya atas nama pribadi sebagai seorang penikmat musik, sebagai seorang rekan professional, sebagai seorang teman/sahabat, saya support dalam segala hal.. Semoga materi lagu-lagu untuk album segera terkumpul. Tetap solid ya guys.. Luph y’all..

GOB BLESS YOU..

Keep Rawkin’ the FAIR’A’DICE dude.. !!!

Fair A Dice member

ReborN

fair-a-dice





My BdaY is tHe ReMiNdeR of mY LiFe.. My age geTtiNg up, buT my TiMe CouNtinG dowN..

5 03 2009

birthday2Tepat 4 Maret 2009 aku menginjakkan kaki di umur gw yang ke 26 tahun..

Umur yang bisa dikategorikan CUKUP untuk seorang perempuan bukan?? Cukup untuk beranjak menjadi seorang wanita yang dewasa, secara pikiran dan tingkah laku..

Kenapa jika seseorang merayakan ulang tahunnya didoakan semoga panjang umur?? Bukannya umurnya malah makin berkurang?? Secara nominal memang bertambah.. Tetapi secara ‘waktu tinggal’ di dunia makin berkurang kan??

Apapun opininya, aku tetap bersyukur masih diberi kesempatan untuk merasakan umur ku yang ke 26.. Masi diberi waktu untuk menjalani hidup dengan sejumlah paket-paket yang sedang menanti di depan sana..

Aku terlahir pada tanggal 4 Maret 1983 pukul 14.20 di tangan seorang bidan.. Aku merupakan buah cinta papa dan mama ku yang kedua, setelah 5 tahun sebelumnya seorang kakak laki-laki bagiku menampakkan diri terlebih dahulu.. Ditengah keluarga yang sedang meniti karir, aku membuka mataku pertama kali dengan bobot 2,6 Kg dan panjang 49 Cm..

Hari-hari di masa kecilku dihiasi dengan tingkah polah anak-anak kebanyakan.. Yang nakal yang lugu.. Tidak ada yang spesial ku rasa.. Mungkin hanya dengan sedikit kebiasaan yang berbeda, bahwa sejak kecil ku menjalani hari-hari dengan ‘man’s rule’..

Aku tergolong perempuan tomboy, sejak kecil aku terbiasa berbaur dengan lingkungan yang didominasi laki-laki.. Karena aku selalu ‘ikut campur’ jika kakak ku berinteraksi dengan teman-temannya.. Tapi tenang aku NORMAL.. Ahahaha..

Sampai sekarang pun aku merasa lebih nyaman berteman dengan sekumpulan laki-laki.. teman-teman perempuanku bisa dihitung dengan jari.. Itupun beberapa sama tomboy nya dengan aku.. hehe..

Jauh dari penyesalan aku menjalani kehidupanku seperti ini, aku merasa bisa mem’proteksi diri aku sendiri dengan ‘kegagahan’ ku.. (hehe).. Tapi itu benar adanya, aku bisa merangkap sebagai bodyguard untuk diriku sendiri sekaligus bodyguard bagi keluargaku.. Karena saat ini tinggal aku sendiri yang mendampingi papa dan mama, kakak ku sudah menjalani kehidupannya secara terpisah dengan keluarga kecilnya..

Hmm…

Kemaren merupakan hari yang paling berharga bagi ku.. Ucapan-ucapan dan doa tertuju kepadaku dari orang-orang terkasihku.. Bahagia.. Terharu..

Tidak ada yang bisa ku balas, selain doa terbaik untuk orang-orang terkasih.. Sedikit surprise ku terima kemaren, dari seseorang yang sampai detik ini masih ku harapkan cintanya.. Hehe.. So sweet.. Kado terindah dari mereka yang aku sayang, dengan balasan sebuah makan malam indah ditengah hujan yang tak henti-hentinya seperti ikut bahagia atas HARI SPESIAL ku.. Tak bosan-bosannya aku mengucap syukur pada pemilik jiwa dan ragaku diatas sana.. Atas semua berkah yang Dia berikan pada ku di hari-hariku..

Bersama Orang-Orang terkasiiH

Bersama merekalah aku menghabiskan sisa waktu di HARI SPESIAL ku.. Penuh tawa tawa dan tawa.. Bahkan hujan sekalipun tidak menghalangi hati ini untuk tertawa terbahak-bahak.. hehe..

Guys.. aku bangga punya kalian disisiku.. Mengisi hari-hari ku dengan tawa dan canda (halah).. Tapi beneraann, mereka kado terindah buat aku.. Makasiiii bangettt sayaaangg…

Hmm..

Last but not least.. Aku inginn teriaakkk… AKU BAHAGIAAAAAAA…